Khutbah Jumat; Menakar Hikmah Pemilu Legislatif 2014


Hadirin Sidang Juma’at Rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadlirat Allah SWT, dzat Yang Maha Kuasa yang telah melimpahi  kita karunia, nikmat dan hidayah-Nya untuk menjalani kehidupan di muka bumi ini sebagai palaksana titah khilafah-Nya. Selanjutnya selaku khotib saya berpesan kepada hadirin semuanya, khususnya pribadi saya sendiri untuk meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Taqwa yang dapat dipupuk dan diperoleh melalui upaya kita dalam meningkatkan kualitas ibadah baik ibadah individual maupun ibadah sosial.
Hadirin Sidang Juma’at Rahimakumullah
Kurang dari seminggu atau tepatnya 5 hari lagi menuju 9 April 2014, masyarakat dan bangsa kita akan menggelar pesta Demokrasi Pancasila yakni Pemilihan Umum Legislatif 2014 untuk memilih wakil rakyat yang terhormat mulai dari DPRD II, DPRD I, DPD RI dan DPR RI. Tentu, sebagai bagian yang integral dari sistem ketatanegaraan kita, anggota Legislatif dipilih di samping diberi tugas dan kewenangan yang khusus, juga ditujukan untuk memperkuat posisi kepemimpinan nasional.
Kepemimipinan nasional bisa menjadi tangguh hanya jika disokong oleh kepemimipinan daerah yang kuat dan baik, selanjutnya kepemimpinan daerah yang kuat dan baik bisa tercipta manakala didukung oleh kearifan lokal yang matang, kemudian  kearifan lokal akan lebih terwujud dari kondisi masyarkat yang matang, terdidik dan tercerahkan. Dengan demikian, Pemilu pada hakikatnya merupakan media jalinan fungsional antara pemerintah dan rakyat bagi keniscayaan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hadirin Sidang Juma’at Rahimakumullah
Menganalisa anatomi proses demokrasi seperti itu, tentu ada beberapa hal penting yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hubungan kepentingan suksesi kepemimpinan  nasional  dan proses-proses kekuasaan melelui Pemilu yaitu :
Pertama, pentingnya kesamaan prinsip dan pandangan dari seluruh warga bangsa dalam menghadapi Pemilu sebagai wahana untuk menentukan nasib masa depan bangsa sekaligus sebagai ibadah. Dengan memahami prinsip ini penyelenggaraan Pemilu beserta aktifitas dan prosesnya diharapkan dapat dijauhkan dari hal-hal negatif dan kurang mendidik seperti money politics, iming-iming, intimidasi atau pun kecurangan-kecurangan lainnya.
Kedua, perlunya sikap selektif dan kehati-hatian masyarakat didalam memilih calon wakilnya. Sebab sebagai calon yang nantinya menjadi wakil rakyat, sudah tentu yang bersangkutan harusnya paham betul urusan orang dan kebutuhan warga yang bakal diwakilinya, maka dengan sendirinya si caleg harus terkenal dan dekat dengan masyarakat. Caleg yang matang dan kompeten hanya dapat diperoleh melalui pendidikan kehidupan bermasyarakat. Apalagi jika kita memahami sistem yang dianut dan dipakai dalam Pemilu sekarang yang menekankan keterpolpuleran caleg. Ditambah dengan tingkat kecerdasan masyarakat yang membaik, menjadi unsur yang penting dalam pemenangan pemilu. Bisa saja terjadi sebuah partai besar dan mapan kalah hanya karena calegnya tidak dikenal dan tidak populer di mata masyarakat pemilihnya.
Hadirin Sidang Juma’at Rahimakumullah
Seiring dengan tingkat kemajuan dan modernitas zaman, masyarakat kita dewasa ini cenderung selalu berfikir instan karena terdesak oleh berbagai kebutuhan sosial. Ia ingin cepat kaya, ingin cepat dapat gelar, ingin cepat sukses, atau bahkan ingin cepat menjadi pejabat. Tanpa mau bekerja keras dulu, peras keringat dulu, banting tulang dulu, belajar reguler dulu atau pengabdian kepada masyarakatnya terlebih dahulu.
Di sisi lain kita  tahu, bahwa sejatinya kualitas SDM seseorang, ketokohan seseorang atau kematangan jiwa seseorang sebelum ia memimpin masyarakatnya terlebih dahulu ia mengabdikan diri secara tulus dan ikhlas di medan kehidupan. Dari pengabdian yang sungguh-sungguh dan tulus ini akan menimbulkan satu penghormatan dan kemuliaan tersendiri dari masyarakat kepada pribadi yang bersangkutan. Kemudian selanjutnya secara perlahan namun pasti dia berubah menjadi tokoh dan panutan masyarakat. Jadi, semakin besar pengabdian dan pengorbanan seseorang dalam mengurusi hal-ihwal hajat kemasyarakatan maka akan muncul pula timbal baliknya yaitu pengakuan, penghormatan dan penghargaan masyarakat kepada orang tersebut, sekaligus sudah tentu mendapat ridla Allah SWT.
Hal demikian sejalan dengan spirit Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 207
 “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.
Proses menjadi pemimpin seperti itu lazim terjadi di daerah – daerah atau pun di perkotaan sebagai satu hukum alam atau sunnatullah. Dan proses pengalaman kepemimipinan seperti itu memang tidak dapat kita temukan di lembaga-lembaga perguruan tinggi, institut-institut atau universitas – univertsitas pendidikan sekalipun. Tapi kita bisa menemukan hal ini di universitas kehidupan masyarakat, yakni kehidupan kita sehari-hari.
Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia
Al-Qur’an sebagai pedoman kita, petunjuk bagi yang bertaqwa, memberi arah yang jelas dalam masalah  etika, etos kerja dan kualitas pengabdian seorang mukmin di tengah-tengah masyarakatnya. Dalam surat   At-Taubah  ayat  105 Allah berfirman :
 “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, niscaya Allah dan rosulNya serta  orang orang mukmin akan melihat pekerjaanmu  itu”.
Kalau kita membaca dan beri’tibar dari tokoh-tokoh nasional kita semisal: Ir. Soekarno, Hasyim Asy’ari, H. Agus Salim, HOS Cokro Aminoto atau pun tokoh-tokoh lainnya beliau-beliau ini merupakan tokoh besar yang telah memberikan jasa yang sangat luar biasa  bagi bangsa ini. Kebesaran beliau-beliau terletak pada kualitas pengorbanan dan pengabdiannya pada negara dan masyarakatnya. Bukan karena kedudukan dan jabatannya.
Jadi dengan memahami kondite seperti ini, kita harus bisa memilih dengan seselektif mungkin terhadap wakil-wakil kita agar kemaslahatan kehidupan masyarakat luas lebih memungkinkan terwujud.
Hal ini tentu menjadi harapan kita semua sesuai dengan kaidah :
ﺘﺻﺮﻒ ﺍﻹﻤﺎﻢ ﻋﻠﻲ ﺍﻠﺮﻋﻴﺔ ﻤﻨﻭﻂ ﺒﺎﻠﻤﺼﺣﺔ
“Kebijakan seorang pemimpin atas rakyatnya harus berorientasi pada maslahah”
Akhirnya mari kita gunakan hak pilih kita, Selamat memilih, selamat berpartisipasi dalam pemilu untuk menentukan nasib masa depan bangsa dan negara, mudah-mudahan dengan suara kita Indonesia bisa menjadi negara yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafuur Amiin ya Rabbal ‘alamin.

Aplikasi Sosiologi

Ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia di lingkungan sekitarnya. Oleh karena yang dipelajari manusia, maka selama manusia masih hidup dan berinteraksi, sosiologi akan tetap ada dan berkembang. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang memberikan pemecahan atas berbagai masalah dengan pendekatan kemasyarakatan. Pengetahuan sosiologi memberikan manfaat dan dapat diaplikasikan / diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna menunjang keberhasilan seseorang dalam kehidupannya di masyarakat. Selain itu, sosiologi merupakan cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dalam masyarakat dengan prosedur dan teori ilmiah.
Berbagai Bentuk Penerapan Pengetahuan Sosiologi
Banyak sekali bidang kehidupan manusia yang membutuhkan bantuan sosiologi. Berikut ini beberapa bentuk nyata penerapan pengetahuan sosiologi dalam kehidupan sehari-hari.
1. Penerapan Pengetahuan Sosiologi bagi Pembuat Keputusan
Sebagai sebuah ilmu, kegiatan utama sosiologi adalah melakukan penelitian ilmiah. Yang hasilnya berupa informasi mengenai berbagai hal di masyarakat. Pengetahuan sosiologi memberikan pemahaman terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Pemecahan persoalan tidak mungkin dilakukan secara efektif tanpa didasari oleh pemahaman yang mendalam. Di sinilah wujud nyata penerapan sosiologi.
2. Penerapan Pengetahuan Sosiologi dalam Mengatasi Masalah Sosial
Masalah sosial adalah gejala-gejala yang berlangsung secara tidak normal di masyarakat. Suatu gejala sosial dikatakan tidak normal apabila unsur-unsur masyarakat dan kebudayaan tidak berfungsi secara harmonis, sehingga menimbulkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan.
Masalah sosial berkaitan dengan nilai dan norma sosial, lembaga sosial, dan interaksi sosial. Nilai sosial dan norma sosial menjadi ukuran moral di dalam masyarakat, sedangkan lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai saluran pemenuhan kebutuhan manusia. Berbagai masalah sosial yang muncul antara lain kejahatan, konflik antar kelompok etnik, kemiskinan, pengangguran, penyakit, perceraian, kejahatan, pelacuran, kenakalan anak (delinkuen), dan lain-lain.
a. Kemiskinan
Dalam masyarakat modern yang rumit, kemiskinan menjadi masalah sosial. Ke- miskinan bagi masyarakat modern juga bukan lagi diartikan sebagai kekurangan pangan, pakaian, atau perumahan, me-lainkan diukur dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi. Kemiskinan yang menjadi pusat perhatian sosiologi terutama berkaitan dengan kekurangan pangan dan rendahnya tingkat kesejahteraan yang banyak dialami masyarakat. Untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan diperlukan berbagai upaya nyata, dan agar upaya yang dilakukan tidak salah arah atau salah sasaran, perlu pengetahuan yang memadai mengenai masalah kemiskinan yang dihadapi.
b. Kejahatan
Tingkat kejahatan di masyarakat dipengaruhi oleh komposisi penduduk dan konflik dalam masyarakat; baik konflik budaya, ekonomi, maupun ras. Semakin pesat perubahan sosial di suatu masyarakat biasanya semakin tinggi pula angka kejahatan yang terjadi. Penyebab munculnya kejahatan, akibat terjadinya kejahatan, dan langkah-langkah mengatasinya merupakan persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat.
Tindakan jahat itu tidak semata-mata melanggar hukum, tetapi menurut juga menyebabkan rusaknya tatanan sosial. Untuk mengatasi kejahatan seperti ini diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai penyebab, akibat, dan langkah-langkah yang dapat dilakukan. Di sinilah letak penerapan pengetahuan sosiologi dalam mengatasi kejahatan.
c. Peperangan
Perang merupakan wujud nyata adanya konflik terbuka antara dua masyarakat atau lebih. Apabila konflik tidak menemukan jalan lain untuk pemecahannya, maka perang dijadikan jalan keluarnya. Perang sebagai bentuk konflik antarmasyarakat dapat dikaji sebab dan prosesnya secara sosiologis. Mengapa suatu masyarakat terjadi konflik; faktor apa yang mendorong konflik tersebut; kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah itu; bagaimana pula cara men- gatasi dampak yang diakibatkan? Semua itu memerlukan kajian sosiologi. Setelah pengetahuan mengenai hal itu diperoleh, barulah langkah mengatasinya dapat dilakukan.
d. Pelanggaran Norma
Norma-norma masyarakat mengatur perilaku setiap orang agar tidak merugikan diri sendiri atau pihak lain. Setiap norma atau peraturan didasarkan pada nilai-nilai sosial tertentu yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Namun, sering terjadi warga masyarakat tidak mampu memenuhi tuntutan moral yang ada dan melakukan pelanggaran. Masalah sosial sebagai wujud pelanggaran norma-norma masyarakat antara lain berupa pelacuran, kenakalan anak, penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif (NAZA), dan homoseksualitas.
Masalah-masalah yang timbul sebagai akibat pelanggaran nilai dan norma sosial seperti yang dijelaskan di atas juga perlu ditangani. Semakin banyak masalah sosial terjadi, berarti semakin buruk kondisi masyarakat. Pengetahuan sosiologi sangat diperlukan dalam upaya-upaya ini.
3. Penerapan Pengetahuan Sosiologi dalam Perencanaan Sosial dan Pembangunan
Perencanaan sosial (social engineering) merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Semakin maju suatu masyarakat, kesadaran akan perencanaan sosial semakin tinggi. Keyakinan bahwa perubahan masyarakat dapat direncanakan telah mem- buat orang dengan sadar membuat perencanaan sosial. Menurut Ogburn dan Nimkoff, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan perencanaan sosial. Syarat-syarat itu dijelaskan sebagai berikut.
1) Adanya Modernitas
2) Adanya Sistem Pengumpulan dan Analisis Informasi yang Baik
3) Adanya Dukungan Masyarakat
4) Adanya Sikap Pemimpin yang Progresif
Bila keempat syarat tersebut telah terpenuhi, maka perencanaan sosial dapat diterapkan. Salah satu wujud perencanaan sosial adalah program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan disegala bidang kehidupan. Tujuan pembangunan adalah menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, baik secara jasmani (material) maupun rohani (spritual). Pembangunan mencakup tiga tahap, yaitu:
1) tahap perencanaan
2) tahap pelaksanaan
3) tahap evaluasi.

Referensi:
Sri Sudarmi dan W. Indriyanto. 2009. Sosiologi 1 : Untuk Kelas X SMA dan MA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
George Ritzer dan Douglas J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media

video


Perilaku Menyimpang

Dalam proses sosialisasi di masyarakat, seseorang disadari atau tidak disadari pasti pernah melakukan tindakan menyimpang, baik dalam skala besar ataupun kecil. Perilaku menyimpang merupakan hasil proses sosialisasi yang tidak sempurna, serta ketidakmampuan seseorang menerapkan nilai dan norma sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang, sehingga menghasilkan perilaku yang menyimpang.
A. Pengertian Penyimpangan Sosial
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat. Perilaku yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku disebut penyimpangan sosial (perilaku menyimpang).
B. Ciri-Ciri Penyimpangan Sosial
Menurut Paul B. Horton penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan.
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak.
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak.
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan
f.  Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)
C. Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial
Menurut Wilnes dalam bukunya “Punishment and Reformation“ sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri.
b. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
D. Bentuk-Bentuk Penyimpangan Sosial
Bentuk-bentuk penyimpangan sosial dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.
Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut. Pertama, Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang.
Kedua, Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk. Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai berikut.
a) Penyimpangan primer (primary deviation) adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang. Misalnya: siswa yang terlambat, pengemudi yang sesekali melanggar peraturan lalu lintas, dan orang yang terlambat membayar pajak.
b) Penyimpangan sekunder (secondary deviation) perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain. Misalnya: orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk, serta seseorang yang melakukan tindakan pemerkosaan. Tindakan penyimpangan tersebut cukup meresahkan masyarakat dan mereka biasanya dicap masyarakat sebagai “pencuri”, “pemabuk”, “penodong”, dan “pemerkosa”.
E. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial
Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma- norma masyarakat. Jenis penyimpangan sosial (perilaku menyimpang), antara lain sebagai berikut.
1. Penyimpangan seksual seperti; perzinaan, lesbian, homoseks, kumpul kebo, pemerkosaan.
2. Penyalahgunaan narkotika
3. Perkelahian pelajar
4. Alkoholisme
5. Tindakan kriminal seperti; pencurian, pemerkosaan, dan perampokan.
F. Teori-Teori Perilaku Menyimpang
Teori-teori yang menjelaskan tentang perilaku menyimpang, antara lain sebagai berikut.
1. Teori fungsi oleh Durkheim.
Menurut teori fungsi, bahwa keseragaman dalam kesadaran moral semua warga masyarakat tidak mungkin ada, karena setiap individu berbeda dengan yang lain. Bahkan menurut Durkheim kejahatan perlu bagi masyarakat, sebab dengan adanya kejahatan maka moralitas dan hukum akan berkembang secara normal. Dengan demikian perilaku menyimpang memiliki fungsi yang positif.
2. Teori merton oleh K. Merton.
Menurut teori merton, bahwa struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku yang konformis (sesuai dengan norma) melainkan juga menghasilkan perilaku yang menyimpang. Struktur sosial dapat menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan juga menghasilkan anomie yaitu pudarnya kaidah.
3. Teori labelling oleh Edwin M. Lement.
Menurut teori labelling, bahwa seseorang menjadi menyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepada dirinya. Labelling adalah pemberian nama atau konotasi buruk, misalnya si pemabuk, si pembolos, si perokok, sehingga meskipun ia tidak lagi melakukan penyimpangan tetap diberi gelar sebutan pelaku menyimpang. Dari hal tersebut ia akan tetap melakukan penyimpangan karena terlanjur dicap oleh masyarakat.
4. Teori konflik oleh Karl Marx.
Menurut teori konflik, bahwa kejahatan terkait erat dengan perkembangan kapitalisme. Perilaku menyimpang diciptakan oleh kelompok-kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan sendiri. Hukum merupakan cerminan kepentingan kelas yang berkuasa dan sistem peradilan pidana mencerminkan kepentingan mereka. Orang miskin yang melakukan pelanggaran dihukum sedangkan pengusaha besar yang melakukan pelanggaran tidak diba- wa ke pengadilan. Demikian menurut pendapat Karl Marx.
5. Teori pergaulan berbeda oleh Edwin H. Sutherland.
Menurut teori pergaulan berbeda, bahwa penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan kelompok yang telah menyimpang. Penyimpangan diperoleh melalui proses alih budaya (cultural transmission). Melalui proses tersebut seseorang mempelajari penyimpangan, maka lama- kelamaan ia pun akan tertarik dan mengikuti pola perilaku yang menyimpang tersebut.

Referensi:
Sri Sudarmi dan W. Indriyanto. 2009. Sosiologi 1 : Untuk Kelas X SMA dan MA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
George Ritzer dan Douglas J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media

video

Sosialisasi

Pada dasarnya, setiap manusia melakukan proses sosialisasi dari lahir hingga meninggalnya. Manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Di dalam kehidupan masyarakat, manusia dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya melalui suatu proses. Proses penyesuaian diri terhadap masyarakat dalam sosiologi dinamakan proses sosialisasi.
Proses Sosialisasi adalah suatu proses di mana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan kebiasaan-kebiasaan) masyarakat, yang dimulai dari lingkungan keluarganya dan kemudian meluas pada masyarakat luas, lambat laun dengan keberhasilan penerimaan atau penyesuaian tersebut, maka individu akan merasa menjadi bagian dari keluarga atau masyarakat.
Ada dua macam sosialisasi, yaitu sebagai berikut.
1) Sosialisasi Primer (Primary Socialization) adalah sosialisasi yang pertama kali dijalani individu semasa kecil. Sosialisasi ini menjadi pintu bagi seseorang memasuki keanggotaan masyarakat.
2) Sosialisasi Sekunder (Secondary Socialization) Sosialisasi sekunder berlangsung pada tahap selanjutnya. Selama proses ini, individu mengenal sektor-sektor baru yang ada di masyarakat. Salah satu bentuk sosialisasi sekunder adalah resosialisasi. Resosialisasi adalah proses pemberian kepribadian baru kepada seseorang.
Secara umum, sosialisasi bertujuan untuk membentuk kepribadian. Kepribadian terbentuk melalui proses mempelajari pola-pola kebudayaan. Kebudayaan yang dipelajari meliputi nilai-nilai, norma-norma, beserta sanksi-sanksi yang akan diterima bila terjadi penyimpangan. Manusia tidak mungkin mengadakan sosialisasi tanpa melibatkan pihak atau unsur dari luar. Media sosialisasi adalah pihak-pihak yang menjadi perantara terjadinya sosialisasi. Berikut ini beberapa media sosialisasi.
1. Keluarga
Keluarga sebagai media pertama dalam proses sosialisasi mempunyai banyak peran, antara lain melatih penguasaan diri, pemahaman nilai-nilai dan norma- norma sosial, serta melatih anak dalam mempelajari peranan sosial.
2. Teman Sebaya
Media sosialisasi pada tahap berikutnya adalah kelompok teman sebaya atau teman sepermainan. Interaksi di antara teman sepermainan bertujuan untuk memperoleh kesenangan (rekreatif). Fungsi utama kelompok teman sebaya dalam proses sosialisasi ialah sebagai berikut.
a) Terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya.
b) Kelompok teman sebaya mengajarkan mobilitas sosial.
c) Kelompok teman sebaya memicu kesempatan seorang anak dalam memperoleh peran dan status baru.
3. Sekolah
Sekolah merupakan wiyata mandala (lembaga pendidikan). Suatu lingkungan yang memiliki tradisi dan budaya tersendiri. Lembaga ini menekankan kultur learning society (masyarakat belajar). Pembudayaan belajar merupakan salah satu proses pembentukan kepri-badian siswa. Sekolah memiliki tiga fungsi: (1) fungsi kognitif, (2) fungsi psikomotorik, dan (3) fungsi afektif. Oleh karena itu, sekolah berperan dalam mentransfer pengetahuan, keterampilan atau keahlian, dan membentuk sikap.
4. Lingkungan Kerja
Di dalam lingkungan kerja manapun, seseorang akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Interaksi sosial itu membuat orang saling menerima dan memberi pengaruh. Terjadilah penyesuaian tingkah laku, baik penyesuaian antarpribadi maupun penyesuaian dengan lingkungan kerja secara umum.
5. Organisasi
Organisasi adalah sebuah tipe pembentukan kolektifitas yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Berikut adalah tiga bentuk organisasi yang biasa kita kenal di masyarakat.
1) Organisasi Sosial Kemasyarakatan. Misalnya: Forum Betawi Rembug (FBR), Persatuan Indonesia (Perindo) dan lain sebagainya.
2) Organisasi Sosial Keagamaan. Misalnya: NU dan Muhammadiyah.
3) Organisasi Profesi. Misalnya IKAOIN (Ikatan Advokat Indonesia), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).
6. Media Massa
Semua jenis media massa tidak secara langsung bertujuan untuk mengajari masyarakat. Akan tetapi, siaran berita, film, iklan, pertunjukan seni budaya, sampai dengan informasi ilmiah, berdampak sangat besar bagi perilaku warga masyarakat. Ada dua macam media massa, yaitu: 1) Media cetak meliputi buku, majalah, surat kabar, tabloid, dan buletin. 2) Media elektronik meliputi semua peralatan yang meng- gunakan daya listrik untuk menyampaikan informasi ke- pada khalayak ramai, misalnya radio, televisi, dan internet.

Referensi:
Suhardi dan Sri Sunarti. 2009. Sosiologi 1 Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Kamanto Sunarto. 2000. Pengantar Sosiologi Edisi Kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Download Lagu Indonesian Idol 2014 Part-2

Berhubung banyaknya request dari sobat blogger, disini kami share lagu-lagu (mp3) yang dibawakan kontestan dalam panggung Indonesian Idol 2014. Silahkan Download Lagu-Lagu Indonesian Idol 2014 dibawah ini.

Spektakuler Show 5 - Indonesian Idol 2014 (21 Maret 2014)
Yuka - Sweet Disposition (Temper Trap) Download
Ubay - Dalam Mihrab Cinta (Afgan) Download
Sarah -There You'll Be (Faith Hill) Download
Virzha - Unchained Melody (Righteous Brothers) Download
Yunita - Tough Lover (Christina Aguilera) Download
Windy - Angel (Sarah Mclachlan) Download
Nowela - Let It Go (Frozen - Demi Lovato-Idina Menzel) Download
Gio - Superman (It's Not Easy) (Five For Fighting) Download
Husein - Skyfall (Adele) Download
Sarah - Best Thing I Never Had (Beyonce) Download
Yuka - Seven Days In Sunny June (Jamiroquai) Download
Yunita - All By Myself (Celine Dion) Download

Spektakuler Show 6 - Indonesian Idol 2014 (28 Maret 2014)
Husein - Toxicity (System Of A Down) Download
Sarah - I'm With You (Avril Lavigne) Download
Ubay - Good Old Fashioned Lover Boy (Queen) Download
Windy - The Final Countdown (Europe) Download
Virzha - Last Nite (The Strokes) Download
Nowela - Black Dog (Led Zeppelin) Download
Yuka - Under Pressure (Queen Feat.David Bowie) Download
Gio - I'll Be There For You (Bon Jovi) Download
Sarah-That's The Way It Is (Celine Dion) Download
Ubay - As Long As You Love Me (Justin B) Download

Spektakuler Show 7 - Indonesian Idol 2014 (4 April 2014)
Virzha - Story Of My Life (One Direction) Download
Gio - Lumpuhkanlah Ingatanku (Geisha) Download
Yuka - Demons (Imagine Dragons) Download
Nowela - Team (Lorde) Download
Husein - Di Belakangku (Peterpan) Download
Ubay - Jar Of Hearts (Christina Perri) Download
Windy - All Of Me (John Legend) Download
Yuka - On End On (Erykah Badu) Download
Windy - California King Bed (Rihanna) Download

Nantikan lagu-lagu pada panggung spektakuler berikutnya hanya disini. Salam damai..

 

© 2013 Fahdisjro Blog. All rights resevered. Template by Templateism - Developed by Studio Web

Back To Top