MPI Konflik Sosial

Dalam masyarakat yang penuh dengan keragaman tidak mengherankan konflik dapat terjadi. Konflik timbul karena perbedaan-perbedaan yang ada dipertajam oleh pihak-pihak tertentu. Konflik merupakan bagian dari suatu kehidupan di dunia yang kadang tidak dapat dihindari. Konflik umumnya bersifat negatif, karena ada kecenderungan antara pihak-pihak yang terlibat konfilk saling bertentangan dan berusaha untuk saling meniadakan atau melenyapkan.
Kondisi Indonesia yang penuh dengan keragaman menjadikannya rawan konflik. Karenanya, tidak mengherankan jika di Indonesia sering terjadi konflik sosial baik personal maupun impersonal. Indonesia merupakan negeri yang sarat dengan konflik yang disertai kekerasan. Lihat saja di berbagai media massa. Ketidakpuasan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah diutarakan dalam bentuk kekerasan fisik, seperti amuk massa, perusakan, dan konflik komunal yang tentunya berdampak negatif bagi keduanya. Selain itu, konflik pun dapat terjadi pada sesama anggota masyarakat manakala kepentingan antarsatu anggota masyarakat bertentangan dengan anggota masyarakat yang lain.
Oleh karena itu, penanganan suatu konflik perlu dilakukan. Dalam sosiologi upaya-upaya penanganan konflik dikenal dengan manajemen/resolusi konflik. Manajemen/resolusi konflik dipahami sebagai upaya untuk mengurangi dampak kerusakan yang terjadi akibat konflik. Selain itu, resolusi konflik dipahami pula sebagai upaya dalam menyelesaikan dan mengakhiri konflik.




Struktur Sosial

Realitas di dalam kehidupan masyarakat, kita tidak bisa melepaskan diri dari pembedaan-pembedaan posisi sosial. Selalu saja akan kita dapatkan gambaran struktur sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Struktur sosial inilah yang kemudian membagi secara definitif, baik individu maupun kelompok, tentang status dan peran yang mesti ditunaikan (power distribution). Dan dalam kenyataannya membicarakan struktur sosial tidak bisa lepas begitu saja dari kenyataan bahwa kehidupan sosial masyarakat selalu membentuk sistem yang saling berkaitan satu sama lain.
Pengertian Struktur Sosial
Sebelum mengkaji lebih jauh tentang struktur sosial, alangkah baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian dari struktur sosial. Bila dilihat dari asal katanya, asal kata struktur dari bahasa Latin "structum" yang berarti menyusun, membangun sebuah gedung atau secara umum dapat dimaknai sebagai kerangka.
Ada beberapa pendapat ahli tentang pengertian atau definisi dari struktur:
1. George Simmel mengatakan bahwa struktur sosial itu hanya sekedar sekumpulan individu serta pola perilakunya namun masyarakat tidak independen dari individu yang membentuknya
2. Raymond Firth menyatakan bahwa struktur sosial merupa- kan suatu pergaulan hidup manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang terjadi dari banyak orang dan meliputi pula lembaga-lembaga di mana orang banyaktersebut ambil bagian.
3. Soerjono Soekanto mendefinisikan struktur sosial sebagai organisasi berkaitan dengan pilihan dan keputusan dalam hubungan-hubungan sosial aktual.
4. E.R Lanch mengungkapkan konsep struktur sosial sebagai sebuah konsep tentang distribusi kekuasaan di antara indi- vidu dan kelompok.
5. Talcot Parson mengatakan bahwa struktur sosial adalah keterkaitan antarmanusia.
Ciri-ciri Struktur Sosial
Adapun ciri-ciri struktur sosial dapat diketahui sebagai berikut:
1. Bersifat Abstrak. Artinya struktur sosial tidak dapat diraba secara inderawi.
2. Dinamis. Struktur sosial dalam masyarakat selalu mengalami perubahan dan perkembangan seiring perjalanan waktu dan kondisi yang ada.
3. Didapati dimensi vertikal dan horisontal. Vertikal yakni didasarkan pada hirarki. Kita bisa melihat adanya atasan dan bawahan, misal struktur pemerintahan desa. Sedang horizontal, yakni didasarkan pada ragam karakteristik tanpa ada faktor hirarki. Misal: suku, agama, ras, jenis kelamin dan lain-lain.
Unsur-unsur Sosial dalam Struktur Masyarakat
Unsur-unsur pokok menurut Soerjono Soekanto adalah sebagai berikut:
2. Kebudayaan.
4. Stratifikasi sosial.
S. Kekuasaan dan Wewenang.
Fungsi Struktur Sosial
Adapun fungsi struktur sosial antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai landasan untuk menanamkan nilai kedisiplinan dalam interaksi sosial. Di sini individu maupun kelompok dapat berperilaku sebagaimana harapan masyarakat di mana kita tinggal.
2. Memberikan karakter yang khas di masing-masing masyarakat.
3. Struktur sosial juga berfungsi sebagai pengawas sosial. Di sini struktur sosial menjadi sebagai pembatas sosial agar masyarakat bertindak atau berperilaku sesuai nilai dan norma yang berlaku.
Tiga Bentuk Masyarakat
Selo Soemarjan membagi bentuk-bentuk masyarakat menjadi tiga, antara lain:
1. Masyarakat Sederhana 2. Masyarakat Modern 3. Masyarakat Madya.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.


MPI Konsepsi Sosiologi

Manusia selalu hidup dalam masyarakat dan berhubungan dengan manusia lain. Hubungan tersebut terjadi secara individual maupun kelompok. Hubungan manusia dengan lingkungannya menghasilkan suatu sistem kehidupan bersama yang disebut dengan masyarakat. Kajian mengenai masyarakat sangat penting dilakukan karena untuk menangani berbagai problem sosial harus berdasar pada informasi akurat yang hanya didapatkan melalui hasil studi sosiologi. Ilmu sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan penting dipelajari agar memiliki kompetensi minimal dalam memahami problematika sosial di lingkungan sekitar.




Perubahan Sosial

Kingsley Davis mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Menurut Robert Mac Iver, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial. Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai sikap dan perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial merupakan konsep yang mencakup aspek-aspek perubahan kultural, struktural, serta proses dimana suatu perubahan terjadi sebagai penyempurnaan dari perubahan sebelumnya. Perubahan sosial juga bisa terjadi pada berbagai tingkat kehidupan dan menimbulkan ketidakseimbangan dalam sistem yang ada dalam masyarakat.
Teori dan Proses Perubahan Sosial
Terdapat dua teori utama pola perubahan sosial, yakni teori siklus dan teori perkembangan atau linear. Teori siklus menyatakan bahwa perubahan sosial tidak dapat direncanakan atau diarahkan ke suatu titik tertentu, melainkan berputar melingkar menurut pola tertentu. Menurut teori perkembangan atau linear, perubahan sosial bersifat linear atau bergerak menuju ke suatu titik tertentu. Teori linear dapat dibedakan menjadi dua, yakni teori evolusi dan teori revolusi.
1)    Teori evolusi, berpendapat bahwa perubahan sosial berlangsung lambat dalam jangka waktu yang sangat lama dan biasanya merupakan rentetan peristiwa-peristiwa kecil yang saling mengikuti. Teori ini dibagi lagi ke dalam tiga kelompok teori, yaitu unilinear theory of evolution, universal theories of evolution, dan multilineal theories of evolution.
2)    Teori revolusi, menyatakan bahwa perubahan sosial dan kebudayaan berlangsung secara cepat dan menyangkut hal-hal yang mendasar atau pokok dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan sosial dapat terjadi melalui beberapa proses berikut.
1)    Difusi, yaitu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan (ide-ide, keyakinan, hasil-hasil kebudayaan, dan sebagainya) dari individu kepada individu lain, dari satu golongan ke golongan lain dalam suatu masyarakat atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Dari pengertian tersebut dapat dibedakan dua macam difusi, yaitu difusi intra masyarakat dan difusi antar masyarakat.
2)    Akulturasi adalah adalah proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan dari luar secara lambat dengan tidak menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan asal.
3)    Asimilasi adalah proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan dari luar yang bercampur dengan unsur-unsur kebudayaan lokal menjadi ke budayaan baru.
4)    Akomodasi, yakni suatu proses yang menuju kepada upaya-upaya manusia untuk meredakan pertentangan atau mencapai kestabilan interaksi sosial.
Dampak Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat menghasilkan dampak yang positif dan negatif. Beberapa dampak yang positif yaitu terjadinya modernisasi, demokrasi dan globalisasi. Dampak yang bersifat negatif antara lain westernisasi, sekularisme, konsumerisme, dan hedonisme.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi 3 : Untuk Kelas X SMA dan MA KelasXII Progarm IPS. Suhardi & Sri Sunarti.


Pengantar Sosiologi

Sosiologi sebagai ilmu, lahir pada abad XIX. Lahirnya sosiologi berkaitan dengan terjadinya perubahan sosial masyarakat di Eropa Barat pada masa Revolusi Industri (Inggris) dan Revolusi Sosial (Prancis). Adanya revolusi tersebut berdampak pada keharmonisan dalam hubungan antarwarga masyarakat. Terjadi kekacauan dan kesenjangan sosial di antara rakyatnya.
Pengertian Sosiologi
Sosiologi berasal dari kata. Socious: kawan. Logos: kata atau bicara. Ilmu sosiologi adalah ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan manusia lain dalam suatu kelompok. Istilah sosiologi pertama kali dimunculkan oleh Auguste Comte (1798-1857), ahli filsafat bangsa Prancis, dalam bukunya "Course of Positive Philoshophy" (1842). Menurut Auguste Comte, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Berarti, obyek kajian sosiologi adalah masyarakat. Auguste Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Bapak Sosiologi Islam adalah Ibnu Khaldun.
Hakikat Sosiologi
  1. Sosiologi termasuk dalam kelompok ilmu sosial.
  2. Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang kategoris : membatasi pada apa yang terjadi dewasa ini.
  3. Sosiologi merupakan ilmu murni : mengembangkan ilmu secara teoritis.
  4. Sosiologi bersifat abstrak.
  5. Sosiologi merupakan ilmu yang umum.
Kegunaan Sosiologi
  1. Untuk pembangunan. Sosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembangunan.
  2. Untuk penelitian. Dengan penelitian akan diperoleh suatu perencanaan atau pemecahan masalah sosial yang baik.
Metode Sosiologi
Soerjono Soekanto membagi metode penelitian menjadi dua macam yaitu:
Pertama; Metode Kualitatif yaitu menyelidiki obyek masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka-angka atau ukuran lain yang bersifat eksakta.
Kedua; Metode Kuantitatif yaitu menyelidiki obyek masyarakat yang dapat diukur dengan angka-angka.
Ciri-Ciri Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan
Empiris : berdasarkan pengamatan di lapangan.
Teoritis : menyusun abstraksi (kesimpulan) dari hasil pengamatan.
Kumulatif : teori yang ada dikembangkan, diperbaiki, diperluas, dan diperdalam.
Non-etis : tidak mempersoalkan baik buruknya fakta, namun menyajikan fakta apa adanya.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas X SMA dan MA. Vina Dwi Laning.

 

© 2014 Fahdisjro Blog. All rights resevered. Template by Templateism - Developed by Studio Web

Back To Top