MPI Kelompok Sosial

Kelompok sosial merupakan gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung didalamnya. Sejak dilahirkan hingga sekarang kita senantiasa menjadi anggota bermacam-macam kelompok. Kita dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah kelompok yang dinamakan keluarga. Selain keluarga, kita juga termasuk anggota kelompok agama tertentu, suku bangsa tertentu, kelompok olahraga tertentu dan organisasi tertentu seperti OSIS, pramuka, partai politik dan sebagainya.
Beberapa klasifikasi kelompok sosial antara lain kelompok solidaritas mekanik, kelompok solidaritas organik, gemeinschaft, gesselschaft, kelompok primer, kelompok sekunder serta in-group dan out-group.




Kelompok Sosial

Pada kenyataannya manusia membawa takdir hidup untuk saling berkelompok. Tidak ada manusia yang sanggup menjalani kehidupannya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Dengan kata lain seseorang akan selalu membutuhkan keberadaan orang lain untuk bisa bertahan. Pertemanan atau persahabatan akan mudah kita temui sebagai perwujudan kebutuhan terhadap orang lain. Kehidupan berkelompok nantinya memberikan pengalaman-pengalaman yang berbeda yang secanr tidak langsung sangat berguna untuk perjalananan kehidupannya nanti.
A. Pengertian
Adapun pengertian kelompok sosial menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
1. Soerjono soekanto mendefinisikan kelompok sosial sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena adanya hubungan diantara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.
2. Hendro Puspito berpendapat, kelompok sosial sebagai suatu kumpulan nyata, teratur, dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.
3. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt mengartikan kelompok sosial sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.
B. Ciri-ciri Kelompok Sosial
Berikut adalah ciri-ciri kelompok sosial secara umum, yakni :
1) Memiliki struktur sosial yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu.
2) Memiliki norma dan nilai yang diberlakukan untuk mengatur segenap anggotanya.
3) Merupakan kesatuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kelompok manusia yang lain.
4) Adanya interaksi dan komunikasi antar anggota.
5) Ada kepentingan bersama.
C. Latar Belakang Pembentukan
Kelompok sosial dasar pembentukannya dapat dilihat sebagai berikut :
1. Faktor Darah (Common Ancestry).
Kelompok sosial dapat dibentuk atas dasar kesamaan darah atau keturunan.
2. Faktor Geografis
Letak tempat juga menentukan terbentuknya kelompok sosial. Anggota masyarakat yang berkumpul di suatu tempat kemudian terjalin komunikasi yang intens maka secara perlahan akan membangun ikatan. Misal: individu yang tinggal di tepian pantai akan membentuk kelompok nelayan.
3. Faktor Kepentingan (Common Interest)
Terdapatnya kesamaan kepentingan di antara para anggota masyarakat sangat memungkinkan untuk membentuk kelompok sosial. Misal: kelompok intelektual, kelompok seniman, dan lain-lain.
4. Faktor Daerah Asal
Apabila seorang individu yang tinggal di suatu tempat kemudian bertemu dengan individu lain dalam jumlah cukup banyak sementara diketahui juga berasal dari daerah kelahiran yang sama maka sangat mungkin mendorong terbentuknya kelompok sosial di daerah tersebut.
D. Bentuk-bentuk Kelompok Sosial
Adapun bentuk-bentuk kelompok sosial yang dapat kita temui sebagai berikut :
1. Kelompok Semu
Kelompok semu dapat diartikan sebagai kelompok yang bersifat sementara atau sesaat atau sering kemudian kita sebut sebagai khalayak umum. Mungkin kita juga bisa mengenalnya sebagai sebuah kerumunan (crowd).
Bentuk-bentuk kerumunan (crowd):
a. Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur :
1) Khalayak penonton atau pendengar formil (formal audience)
2) Kelompok ekspresif yang telah sedang direncanakan (planned expressive group)
b. Kerumunan yang bersifat sementara (causal crowds)
1) Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations)
2) Kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (ponic crowds)
3) Kerumunan penonton (spectator crowds)
c. Kerumunan yang berlawanan dengan norma hukum (lawless crowds)
1) Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs)
2) Kerumunan yang bersifat immoril (immoralcrowds)
2. Kelompok Nyata
Berbalik dengan kelompok semu, kelompok nyata memiliki ciri kehadiran yang selalu konstan. Kelompok nyata ini dapat dilihat bentuknya antara lain: kelompok statistik, kelompok sosieta, dan kelompok asosiasi.
3. Gemeinschaft (Paguyuban)
Paguyuban adalah kelompok sosial yang anggotanya memiliki ikatan batin yang kuat, intim, dan alamiah. Ferdinand Tonnies melihat tiga bentuk gemeinschaft:
a. Paguyuban berdasarkan ikatan darah (Gemeinschaft by blood)
b. Paguyuban berdasar ikatan pikiran (Gemeinschaft by mind)
c. Paguyuban berdasarkan ikatan tempat (Gemeinschaft by place)
4. Geselleschaft (Patembayan)
Patembayan merupakan ikatan lahir yang sementara, bersifat mekanis, formal, dan individual.
5. Kelompok Primer
Kelompok primer memiliki ikatan antar anggotanya begitu kuat dan bersifat informal. Misal: keluarga.
6. Kelompok Sekunder
Kelompok sekunder merupakan kelompok yang ikatan anggotanya bersifat formal berdasarkan pada asas kemanfaatan.
7. Membership Group
Membership group adalah kelompok sosialyang secara fisik setiap orang menjadi anggota dari kelompok tersebut.
8. Reference Group
Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang yang bukan anggota kelompok untuk kemudian membentuk pribadi dan peri lakunya sesuai dengan kelompok acuan.
9. ln Group
ln Group merupakan kelompok sosial tempat di mana individu mengidentifikasi dirinya.
10. Out Group
Out Group merupakan kelompokyang berada diluar atau kita anggap lawan. Terkadang ditandai dengan sikap antipati.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



http://adf.ly/qvPi4

MPI Konflik Sosial

Dalam masyarakat yang penuh dengan keragaman tidak mengherankan konflik dapat terjadi. Konflik timbul karena perbedaan-perbedaan yang ada dipertajam oleh pihak-pihak tertentu. Konflik merupakan bagian dari suatu kehidupan di dunia yang kadang tidak dapat dihindari. Konflik umumnya bersifat negatif, karena ada kecenderungan antara pihak-pihak yang terlibat konfilk saling bertentangan dan berusaha untuk saling meniadakan atau melenyapkan.
Kondisi Indonesia yang penuh dengan keragaman menjadikannya rawan konflik. Karenanya, tidak mengherankan jika di Indonesia sering terjadi konflik sosial baik personal maupun impersonal. Indonesia merupakan negeri yang sarat dengan konflik yang disertai kekerasan. Lihat saja di berbagai media massa. Ketidakpuasan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah diutarakan dalam bentuk kekerasan fisik, seperti amuk massa, perusakan, dan konflik komunal yang tentunya berdampak negatif bagi keduanya. Selain itu, konflik pun dapat terjadi pada sesama anggota masyarakat manakala kepentingan antarsatu anggota masyarakat bertentangan dengan anggota masyarakat yang lain.
Oleh karena itu, penanganan suatu konflik perlu dilakukan. Dalam sosiologi upaya-upaya penanganan konflik dikenal dengan manajemen/resolusi konflik. Manajemen/resolusi konflik dipahami sebagai upaya untuk mengurangi dampak kerusakan yang terjadi akibat konflik. Selain itu, resolusi konflik dipahami pula sebagai upaya dalam menyelesaikan dan mengakhiri konflik.




Mobilitas Sosial


Di dalam masyarakat terdapat tingkatan-tingkatan sosial tertentu yang dinamakan pelapisan atau strata. Setiap orang berkesempatan untuk melakukan perpindahan dari strata satu ke strata yang lain. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit.
Pengertian Mobilitas Sosial
Di dalam bahasa Indonesia, mobilitas berarti gerak (KBBI : 2001). Oleh karena itu, mobilitas sosial (social mobility) adalah suatu gerak dalam struktur sosial (social structure). Dengan kata lain, mobilitas sosial dapat diartikan sebagai gerak perpindahan dari suatu status sosial ke status sosial yang lain.
Jenis-Jenis Mobilitas Sosial
1.    Mobilitas Sosial Horizontal. Diartikan sebagai suatu peralihan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dengan kata lain mobilitas horisontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Contoh: Pak Jarwo seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya.
2.    Mobilitas Sosial Vertikal. Diartikan sebagai suatu peralihan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Terbagi menjadi dua yaitu mobilitas vertical ke atas (Sosial Climbing) dan mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking)
Saluran Mobilitas Sosial Vertikal
Menurut Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertikal memiliki saluran-saluran dalam masyarakat. Proses mobilitas sosial vertikal ini disebut social circulation. Berikut ini saluran-saluran terpenting dari mobilitas sosial.
a. Angkatan Bersenjata
b. Lembaga-Lembaga Keagamaan
c. Lembaga-Lembaga Pendidikan
d. Organisasi Politik
e. Organisasi Ekonomi
f. Organisasi Keahlian
3.    Mobilitas Sosial Antargenerasi
Mobilitas sosial antargenerasi ditandai oleh perkembangan atau peningkatan taraf hidup dalam suatu garis keturunan. Mobilitas seperti ini bukan menunjuk pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan kenaikan kedudukan (status sosial) dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan kata lain, mobilitas sosial antargenerasi yaitu perpindahan kedudukan seseorang/anggota masyarakat yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Contoh: generasi orang tua (ayah ibu) dengan generasi anak.
Proses Mobilitas Sosial
Terjadinya mobilitas sosial berkaitan erat dengan hal-hal yang dianggap berharga di masyarakat. Oleh karena itu, kepemilikan atas hal-hal tersebut akan menjadikan seseorang menempati posisi atau kedudukan yang lebih tinggi. Akibatnya, dalam masyarakat terdapat penggolongan yang mempengaruhi struktur sosial. Hal-hal tersebut antara lain kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan. Dalam proses mobilitas sosial terdapat faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas sosial, yaitu:
1.    Status Sosial
2.    Keadaan Ekonomi
3.    Situasi Politik
4.    Motif-Motif Keagamaan
5.    Masalah Kependudukan
6.    Keinginan Melihat Daerah Lain
Dampak Mobilitas Sosial
Tidak dapat dimungkiri adanya mobilitas sosial mendorong timbulnya perubahan posisi atau kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat. Situasi ini tentunya membawa pengaruh tersendiri terhadap sistem pelapisan yang ada. Segala bentuk perubahan menimbulkan dampak bagi masyarakat. Begitu juga dalam proses mobilitas sosial. Jika perubahan kedudukan atau posisi seseorang dapat diterima oleh masyarakat maka akan tercipta kerja sama. Namun, keadaan menjadi berbeda apabila perubahan status atau kedudukan ditolak dan tidak diakui oleh masyarakat. Secara garis besar, dampak dari mobilitas terbagi menjadi dua bentuk umum, yaitu konflik dan penyesuaian.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



Muhasabah Mudik Lebaran


Sebagaimana tradisi-tradisi lainnya yang berkembang subur dimasyarakat, mudik telah diangap sebagai ritual yang wajib dilakoni oleh mayoritas masyarakat urban di Indonesia. Mudik atau kembali ke udik secara biologis adalah jembatan untuk kembali ke kampung halaman bertemu dan bersilaturahmi dengan orang tua, keluarga dan handai taulan. Mudik secara spiritual menjadi ajang menemukan kembali asa, adab dan jati diri pribadi yang seakan telah menjauh bahkan menghilang dari lingkungan serta peradaban yang membentuk dan membesarkan karakternya sejak dini. Selanjutnya lebaran secara sosial dianggap sebagai medium penyegaran kembali ukhuwah serta kehangatan relasi sosial yang sempat renggang karena tuntutan kerja diperantauan. Kewajiban mengeluarkan zakat adalah bentuk tanggung jawab sosial kaum yang memperoleh kemenangan di hari lebaran kepada para kaum papa dan dhuafa.
Selanjutnya disambung dengan semangat silaturahmi atau halal bihalal sebagai jalan mendapatkan pembebasan dari dosa dan khilaf dengan saling membuka lebar pintu maaf. Lebaran dalam tataran sosial juga seharusnya menjadi titik balik kemenangan umat untuk keluar dari telikung sifat bathil, gemar menjarah, sikap telengas atas sesama serta jebakan jiwa penuh amarah. Mampukah ritual mudik dan lebaran menghapus paradoks kompleksitas dan kekeliruan pemaknaan atas kewenangan umat muslim selama ini. Akankah spiritualisasi mudik mampu mengantarkan umat muslim menjadi insan kamil (insan paripurna) yang juga berlebaran secara paripurna.
Mudik alias pulang kembali ke udik atau kampung halaman, secara sosio-psikologis mudik mudah dipahami sebagai fenomena sosial dimana masyarakat merelakan dirinya untuk bersusah payah dalam segala kerumitan prosesi. Kerelaan dalam keterpaksaan ini umumnya terdorong oleh kolektivitas perasaan masyarakat untuk menikmati lebaran bersama keluarga besar di kampung halaman. Apapun demi mudik. Kemudian menjadi sebuah frasa klise yang dianggap jamak untuk menyebutkan betapa tingginya antusiasme publik dalam melakukan tradisi tahunan ini. Bahkan bagi sebagian kalangan, irasionalitas adalah nuansa yang kerap tertangkap didalam benak. Kondisi jalan padat yang merayap samai macet total, tuslah yang melambungkan harga tiket kendaraan umum begitu mahal, penuh sesak dan bejubelnya antrian, ditingkahi beragam kejadian kisruh dijalan adalah rentetan pemandangan yang terpampang secara banal. Tidak masuk akal memang, namun pada faktanya irasionalitas secara sosiologis mendorong semuanya dilakukan secara berulang setiap tahun.
Dalam skala  komodivikasi tradisi, paradoksal puasa dan mudik juga acap tampil diluar kesadaran sosial publik. Spiritualisasi puasa yang disesaki semangat dasar untuk toleran dan solidaritas dengan kaum papa, ternyata kerap lupa mengejawantah dalam praktik hidup sehari-hari baik selama atau pasca puasa. Ritual puasa disambung prosesi mudik dalam tarikan lurus proses menuju fitrah dihari lebaran, kerap diwarnai oleh demonstrasi perilaku hedonisme juga riya alias PAMER. Salah satu bentuk paling sederhana dan jadi rahasia umum, mudik kerap menjadi etalase untuk mengumbar keberhasilan diperantauan.
Wajar dan tidak salah memang sepanjang masih proporsional dan tidak berlebihan. Namun realitanya, alih-alih mudik demi membawa dan menularkan nilai-nilai profesionalitas, keuletan berusaha dan etos kerja yang justru lebih banyak terpampang kepada warga di kampung halaman adalah nilai-nilai pragmatisme dan kebanggaan atas keberpunyaan harta duniawi. Namun dibalik segala paradoks, sesungguhnya apa yang tergambar dari mudik massal tahunan ini adalah refleksi bantahan dari berbagai tesis bahwa bangsa ini telah kehilangan rasa dan romansa kebersamaannya. Bahwa bangsa ini semakin individualistis, terjebak dalam modernitas hidup yang terpusat oleh ke-AKU-an pribadi.
Mudik menjadi wujud kesadaran kolektif bahwa setiap pribadi pemudik adalah makhluk sosial yang terbalut oleh sebuah kultur romantisme komunal. Dan bahwasannya didalam ingatan itu mereka masih menyelami nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, spiritualitas dan cinta lingkungan di kampung halaman. Boleh jadi hal-hal itulah yang menjadi idealitas spiritualisasi mudik fisik sebagai hasil religiusitas watak sosial yang menjadi wadah untuk menyegarkan kembali degradasi nilai-nilai, etika dan moral.
Meskipun pahit harus diakui bahwa selama ini yang terus terpapar adalah eskalasi paradoks mudik dan lebaran. Mudik dan lebaran tidak lagi sekedar menjadi ritual menuju kemenangan bersama yang sederhana dan bersahaja. Mudik dan lebaran justru kian identik dengan delusi serta selebrasi hedonisme tingkat kalap, juga ajang pameran topeng materialistik semata.

Referensi:
George Ritzer dan Douglas J. Goodman. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media

 

© 2014 Fahdisjro Blog. All rights resevered. Template by Templateism - Developed by Studio Web

Back To Top