Pemenang Lomba BPTIKP 2014

Lomba Pengembangan dan Pengayaan Sumber Belajar merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh BPTIKP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Ajang ini diselenggarakan untuk Guru jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Bertujuan untuk memotivasi warga sekolah mengembangkan dan mempublikasikan bahan belajar interaktif mandiri, merangsang kesadaran warga sekolah akan pentingnya bahan ajar / media pembelajaran berbasis TIK sebagai penunjang proses pembelajaran dan terbentuknya kultur pembelajaran yang inovatif dan kreatif bagi seluruh warga sekolah melalui bahan ajar / media pembelajaran berbasis TIK.
Presentasi finalis lomba diselenggarakan mulai tanggal 20 s.d. 28 Agustus 2014 bertempat di Aula BPTIKP Jawa Tengah Jalan Suratmo – Tarumpolo Tengah No. 7 Semarang Barat Semarang. Menghasilkan karya terbaik sumber belajar berbasis Multimedia Pembelajaran Interaktif, Blog Guru dan Website Sekolah yang dikembangkan oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran melalui pemberdayaan TIK.
Setelah melalui tahapan seleksi, presentasi peserta dan penilaian para Juri maka diumumkanlah pemenang lomba sebagai berikut :

Lomba ini akan ditutup dengan seminar menghadirkan nara sumber nasional dan regional dan diseminasi pemenang lomba untuk memperkenalkan hasil karyanya pada Guru di Jawa Tengah pada tanggal 18 September 2014.
Sumber : http://bptikp.pdkjateng.go.id/lomba/

MPI Kelompok Sosial

Kelompok sosial merupakan gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung didalamnya. Sejak dilahirkan hingga sekarang kita senantiasa menjadi anggota bermacam-macam kelompok. Kita dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah kelompok yang dinamakan keluarga. Selain keluarga, kita juga termasuk anggota kelompok agama tertentu, suku bangsa tertentu, kelompok olahraga tertentu dan organisasi tertentu seperti OSIS, pramuka, partai politik dan sebagainya.
Kelompok sosial adalah kesatuan orang yang saling berinteraksi dan memiliki kesadaran dalam satu ikatan. Dasar dari pembentukan kelompok sosial ini karena adanya kesamaan kepentingan dan tujuan dalam kelompok tersebut. Beberapa klasifikasi kelompok sosial antara lain kelompok solidaritas mekanik, kelompok solidaritas organik, gemeinschaft, gesselschaft, kelompok primer, kelompok sekunder serta in-group dan out-group.




Kelompok Sosial

Pada kenyataannya manusia membawa takdir hidup untuk saling berkelompok. Tidak ada manusia yang sanggup menjalani kehidupannya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Dengan kata lain seseorang akan selalu membutuhkan keberadaan orang lain untuk bisa bertahan. Pertemanan atau persahabatan akan mudah kita temui sebagai perwujudan kebutuhan terhadap orang lain. Kehidupan berkelompok nantinya memberikan pengalaman-pengalaman yang berbeda yang secanr tidak langsung sangat berguna untuk perjalananan kehidupannya nanti.
A. Pengertian
Adapun pengertian kelompok sosial menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
1. Soerjono soekanto mendefinisikan kelompok sosial sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena adanya hubungan diantara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.
2. Hendro Puspito berpendapat, kelompok sosial sebagai suatu kumpulan nyata, teratur, dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.
3. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt mengartikan kelompok sosial sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.
B. Ciri-ciri Kelompok Sosial
Berikut adalah ciri-ciri kelompok sosial secara umum, yakni :
1) Memiliki struktur sosial yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu.
2) Memiliki norma dan nilai yang diberlakukan untuk mengatur segenap anggotanya.
3) Merupakan kesatuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kelompok manusia yang lain.
4) Adanya interaksi dan komunikasi antar anggota.
5) Ada kepentingan bersama.
C. Latar Belakang Pembentukan
Kelompok sosial dasar pembentukannya dapat dilihat sebagai berikut :
1. Faktor Darah (Common Ancestry).
Kelompok sosial dapat dibentuk atas dasar kesamaan darah atau keturunan.
2. Faktor Geografis
Letak tempat juga menentukan terbentuknya kelompok sosial. Anggota masyarakat yang berkumpul di suatu tempat kemudian terjalin komunikasi yang intens maka secara perlahan akan membangun ikatan. Misal: individu yang tinggal di tepian pantai akan membentuk kelompok nelayan.
3. Faktor Kepentingan (Common Interest)
Terdapatnya kesamaan kepentingan di antara para anggota masyarakat sangat memungkinkan untuk membentuk kelompok sosial. Misal: kelompok intelektual, kelompok seniman, dan lain-lain.
4. Faktor Daerah Asal
Apabila seorang individu yang tinggal di suatu tempat kemudian bertemu dengan individu lain dalam jumlah cukup banyak sementara diketahui juga berasal dari daerah kelahiran yang sama maka sangat mungkin mendorong terbentuknya kelompok sosial di daerah tersebut.
D. Bentuk-bentuk Kelompok Sosial
Adapun bentuk-bentuk kelompok sosial yang dapat kita temui sebagai berikut :
1. Kelompok Semu
Kelompok semu dapat diartikan sebagai kelompok yang bersifat sementara atau sesaat atau sering kemudian kita sebut sebagai khalayak umum. Mungkin kita juga bisa mengenalnya sebagai sebuah kerumunan (crowd).
Bentuk-bentuk kerumunan (crowd):
a. Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur :
1) Khalayak penonton atau pendengar formil (formal audience)
2) Kelompok ekspresif yang telah sedang direncanakan (planned expressive group)
b. Kerumunan yang bersifat sementara (causal crowds)
1) Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations)
2) Kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (ponic crowds)
3) Kerumunan penonton (spectator crowds)
c. Kerumunan yang berlawanan dengan norma hukum (lawless crowds)
1) Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs)
2) Kerumunan yang bersifat immoril (immoralcrowds)
2. Kelompok Nyata
Berbalik dengan kelompok semu, kelompok nyata memiliki ciri kehadiran yang selalu konstan. Kelompok nyata ini dapat dilihat bentuknya antara lain: kelompok statistik, kelompok sosieta, dan kelompok asosiasi.
3. Gemeinschaft (Paguyuban)
Paguyuban adalah kelompok sosial yang anggotanya memiliki ikatan batin yang kuat, intim, dan alamiah. Ferdinand Tonnies melihat tiga bentuk gemeinschaft:
a. Paguyuban berdasarkan ikatan darah (Gemeinschaft by blood)
b. Paguyuban berdasar ikatan pikiran (Gemeinschaft by mind)
c. Paguyuban berdasarkan ikatan tempat (Gemeinschaft by place)
4. Geselleschaft (Patembayan)
Patembayan merupakan ikatan lahir yang sementara, bersifat mekanis, formal, dan individual.
5. Kelompok Primer
Kelompok primer memiliki ikatan antar anggotanya begitu kuat dan bersifat informal. Misal: keluarga.
6. Kelompok Sekunder
Kelompok sekunder merupakan kelompok yang ikatan anggotanya bersifat formal berdasarkan pada asas kemanfaatan.
7. Membership Group
Membership group adalah kelompok sosialyang secara fisik setiap orang menjadi anggota dari kelompok tersebut.
8. Reference Group
Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang yang bukan anggota kelompok untuk kemudian membentuk pribadi dan peri lakunya sesuai dengan kelompok acuan.
9. ln Group
ln Group merupakan kelompok sosial tempat di mana individu mengidentifikasi dirinya.
10. Out Group
Out Group merupakan kelompokyang berada diluar atau kita anggap lawan. Terkadang ditandai dengan sikap antipati.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



http://adf.ly/qvPi4

MPI Konflik Sosial

Dalam masyarakat yang penuh dengan keragaman tidak mengherankan konflik dapat terjadi. Konflik timbul karena perbedaan-perbedaan yang ada dipertajam oleh pihak-pihak tertentu. Konflik merupakan bagian dari suatu kehidupan di dunia yang kadang tidak dapat dihindari. Konflik umumnya bersifat negatif, karena ada kecenderungan antara pihak-pihak yang terlibat konfilk saling bertentangan dan berusaha untuk saling meniadakan atau melenyapkan.
Kondisi Indonesia yang penuh dengan keragaman menjadikannya rawan konflik. Karenanya, tidak mengherankan jika di Indonesia sering terjadi konflik sosial baik personal maupun impersonal. Indonesia merupakan negeri yang sarat dengan konflik yang disertai kekerasan. Lihat saja di berbagai media massa. Ketidakpuasan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah diutarakan dalam bentuk kekerasan fisik, seperti amuk massa, perusakan, dan konflik komunal yang tentunya berdampak negatif bagi keduanya. Selain itu, konflik pun dapat terjadi pada sesama anggota masyarakat manakala kepentingan antarsatu anggota masyarakat bertentangan dengan anggota masyarakat yang lain.
Oleh karena itu, penanganan suatu konflik perlu dilakukan. Dalam sosiologi upaya-upaya penanganan konflik dikenal dengan manajemen/resolusi konflik. Manajemen/resolusi konflik dipahami sebagai upaya untuk mengurangi dampak kerusakan yang terjadi akibat konflik. Selain itu, resolusi konflik dipahami pula sebagai upaya dalam menyelesaikan dan mengakhiri konflik.




Mobilitas Sosial


Di dalam masyarakat terdapat tingkatan-tingkatan sosial tertentu yang dinamakan pelapisan atau strata. Setiap orang berkesempatan untuk melakukan perpindahan dari strata satu ke strata yang lain. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit.
Pengertian Mobilitas Sosial
Di dalam bahasa Indonesia, mobilitas berarti gerak (KBBI : 2001). Oleh karena itu, mobilitas sosial (social mobility) adalah suatu gerak dalam struktur sosial (social structure). Dengan kata lain, mobilitas sosial dapat diartikan sebagai gerak perpindahan dari suatu status sosial ke status sosial yang lain.
Jenis-Jenis Mobilitas Sosial
1.    Mobilitas Sosial Horizontal. Diartikan sebagai suatu peralihan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dengan kata lain mobilitas horisontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Contoh: Pak Jarwo seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya.
2.    Mobilitas Sosial Vertikal. Diartikan sebagai suatu peralihan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Terbagi menjadi dua yaitu mobilitas vertical ke atas (Sosial Climbing) dan mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking)
Saluran Mobilitas Sosial Vertikal
Menurut Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertikal memiliki saluran-saluran dalam masyarakat. Proses mobilitas sosial vertikal ini disebut social circulation. Berikut ini saluran-saluran terpenting dari mobilitas sosial.
a. Angkatan Bersenjata
b. Lembaga-Lembaga Keagamaan
c. Lembaga-Lembaga Pendidikan
d. Organisasi Politik
e. Organisasi Ekonomi
f. Organisasi Keahlian
3.    Mobilitas Sosial Antargenerasi
Mobilitas sosial antargenerasi ditandai oleh perkembangan atau peningkatan taraf hidup dalam suatu garis keturunan. Mobilitas seperti ini bukan menunjuk pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan kenaikan kedudukan (status sosial) dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan kata lain, mobilitas sosial antargenerasi yaitu perpindahan kedudukan seseorang/anggota masyarakat yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Contoh: generasi orang tua (ayah ibu) dengan generasi anak.
Proses Mobilitas Sosial
Terjadinya mobilitas sosial berkaitan erat dengan hal-hal yang dianggap berharga di masyarakat. Oleh karena itu, kepemilikan atas hal-hal tersebut akan menjadikan seseorang menempati posisi atau kedudukan yang lebih tinggi. Akibatnya, dalam masyarakat terdapat penggolongan yang mempengaruhi struktur sosial. Hal-hal tersebut antara lain kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan. Dalam proses mobilitas sosial terdapat faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas sosial, yaitu:
1.    Status Sosial
2.    Keadaan Ekonomi
3.    Situasi Politik
4.    Motif-Motif Keagamaan
5.    Masalah Kependudukan
6.    Keinginan Melihat Daerah Lain
Dampak Mobilitas Sosial
Tidak dapat dimungkiri adanya mobilitas sosial mendorong timbulnya perubahan posisi atau kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat. Situasi ini tentunya membawa pengaruh tersendiri terhadap sistem pelapisan yang ada. Segala bentuk perubahan menimbulkan dampak bagi masyarakat. Begitu juga dalam proses mobilitas sosial. Jika perubahan kedudukan atau posisi seseorang dapat diterima oleh masyarakat maka akan tercipta kerja sama. Namun, keadaan menjadi berbeda apabila perubahan status atau kedudukan ditolak dan tidak diakui oleh masyarakat. Secara garis besar, dampak dari mobilitas terbagi menjadi dua bentuk umum, yaitu konflik dan penyesuaian.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Bacaan Lebih Lanjut
BSE Sosiologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Vina Dwi Laning.



 

© 2014 Fahdisjro Blog. All rights resevered. Template by Templateism

Back To Top